Tag Archive | kota

Pemburu Yang Diburu (Kaum “Manusia Belanja”)

Berkerumun seperti kelompok pemburu dari zaman Nomaden.
Anehnya, mereka punya rumah dan tempat tinggal yang tetap.
Juga tidak sadar, mereka adalah pemburu yang diburu. Pemburu yang tidak sadar sedang menjadi buruan. Demi sebuah kata: “BURUAN!”.
Ironis!
Kita yang menyaksikan, tidak akan pernah tau apa yang mereka cari.
Mungkin mereka tau, tapi tidak mau tau.

Sekumpulan masyarakat modern yang primitif.
Membeli apa yang mereka inginkan tapi tidak pernah mereka butuhkan.

Berdesakan sangat liar dan beringas. Menuju sebuah tanda bertuliskan “SALE” atau “DISKON 70 + 20%”
Mau uji nyali, silakan halangi jalan mereka. Dan saat sadar, kau sudah berbaring di sebuah Ambulans, lengkap dengan Infus, selang oksigen, penyangga leher, 3 luka tembak, dan puluhan memar bekas hantaman benda tumpul di sekujur tubuhmu. Lengkap dengan trauma psikologis stadium III.

Mereka membawa sebuah daftar belanjaan yang di dalamnya tertulis “Kecap: 3 botol besar”. Tapi saat pulang, mereka membawa Kecap dan kawan-kawanya yang asalnya entah dari mana.
Orang-orang ini benar-benar mengerti konsep “Bonus Perjuangan”

Satu orang berdiri dengan memegang sebuah mikrofon, agak mirip pemandu wisata di kebun binatang. Bedanya, orang ini bicara dengan intonasi nada yang lebih genit, kemudian mengucapkan sebuah kalimat provokatif: “BURUAN… NANTI KEHABISAN!!!”
Ratusan orang mulai berdatangan.
Kerusuhan dimulai saudara-saudara!
Orang-orang ini sangat mengerti maksud dan arti kata buruan. Dan tidak mengerti arti kata “BURUAN!”.

Mereka adalah para Pembelanja “pemburu” handal. Sangat terlatih, dan lihai. Dengan tingkat akurasi yang tinggi, mereka bisa mengetahui lokasi diskon dengan mendeteksi suara, panas, serta aroma, bahkan zat Feromon “pemburu” lain yang sedang jatuh cinta kepada sebuah sepatu. Dasar psikopat kambuhan.
Begitu Efisien dan taktis! Mereka tahu secara tepat jumlah langkah serta rute tersingkat yang dibutuhkan untuk menuju dari satu lokasi diskon ke lokasi diskon yang lain.

Menghabiskan uang yang bisa memberi makan 147 anak jalanan demi sebuah sepatu, tas, baju, jas, gaun, jam tangan, yang ternyata sudah didiskon.
Kalian belum tau apa arti kata “GILA”?
Sekarang kalian tau.

Bingung memilih antara Prada atau Gucci, antara Paris atau Milan, antara Ramayana atau Matahari, antara Levi’s atau Lee Cooper. Tidak pernah ada tempat untuk JK Collection (maaf Pak JK). Apalagi untuk Swallow.
Tapi, ketika dibahas tentang Charil anwar atau WS Rendra. Tentu saja mereka juga tertarik.
Dengan sedikit spontan, “Hmmm… Itu penata busana dari mana? Indonesia!?!? Kok saya baru dengar yaa?”.
Tolong tampar saya!
Oke…
Sekali lagi!
Oke, terima kasih.

Sekarang kalian tau, siapa yang sebenarnya menjadi BURUAN.

Salam Hangat

Penonton setia Animal Planet.

Advertisements

Vandalism

Fun All Is Me

“I am captain awesome!!!”

Itulah pesan yang mereka coba sampaikan kepada kita.
Kondisi di tempat ini nyaris mirip dengan Sin City, Pattaya di Thailand. Tidak! Bukan menjajakan kamar hotel murah untuk prostitusi (walaupun dengan sedikit kerja keras kau bisa mendapatkannya di tempat ini). Juga bukan! Menjajakan gadis-gadis “malam” juga tidak masuk dalam daftar apa yang akan kita bicarakan. Memang kota ini punya beberapa tapi tidak se ekstrim pattaya.

LEBIH BURUK!!!

Di tempat ini. Kau bisa dengan mudah menemukan foto pria dengan senyum nyaris misterius, sedikit lagi-hampir-nyaris-mendekati-mirip-menyerupai senyum Monalisa, versi setelah lari keliling lapangan bola 1000 kali putaran. Kadang ada senyum sumringah, seperti… seperti… seperti… maaf saya tidak pernah melihat senyum yang seperti itu. Dan beberapa diantaranya cukup gigih mencoba metode berbeda, dengan memasang wajah dingin seperti Steven Seagal mungkin? Jason Statham? Tapi apa? terlalu sering bolos sekolah akting, dan les balet membuat ekspresi mereka jadi lebih mirip nenek-nenek bengis kelebihan dosis sinetron harian.

Dengan slogan-slogan yang sangat persuasif, atau setidaknya mereka berusaha persuasif. Mencoba menanamkan sebuah insepsi pesan alam bawah sadar: “I am captain awesome! Vote me!” Tapi tentu saja hal itu tidak bekerja efektif untukku. Kalaupun ternyata berhasil, saya bukan orang yang tepat! Percayalah!

Tidak percaya? berikut alasannya:

  1. Saya tidak punya kartu keluarga
  2. Ketua RT di tempatku tinggal mungkin seorang tentara perdamaian di perbatasan Nepal, sampai dia tidak punya waktu memperhatikan warganya.
  3. Saya tidak tau dimana kantor lurah.
  4. Kalaupun saya tau kantor lurah, gosip petugas lurah yang suka minta uang pelicin sangat mengerikan. Saya tidak sanggup membayangkan ke kantor lurah membawa satu jerigen Oli bekas!
  5. Saya tidak tau dimana kantor camat.
  6. Kalaupun saya tau kantor camat, ada gosip beredar disana butuh lebih banyak uang pelicin. Terus terang, membawa satu kontainer Oli bekas itu sangat konyol dan bodoh! Orang-orang ini perlu terapi perilaku menyimpang.
  7. KESIMPULAN: Saya tidak punya KTP.
    KESIMPULAN DARI KESIMPULAN: Saya tidak bisa ikut memilih dalam Pilkada… KESIMPULAN DARI KESIMPULAN DARI KESIMPULAN: Pak!!! Saya Gembel pak!!! Gembel!!!

Tapi tetap saja, orang-orang ini benar-benar meneror kota. Dengan jumlah poster, spanduk, flyer, baligho, yang mereka sebar diseluruh penjuru kota, di pohon-pohon, tiang listrik, dinding-dinding, di pembatas jalan, di becak, di angkot (pete-pete), di bis kota, dimanapun ada space kosong! Mereka benar-benar ada dimana-mana. Mungkin satu-satunya tempat yang aman adalah kereta bayi.

Mereka mengobral diri (mirip di Pattaya bukan?) dalam benda dua dimensi dengan paduan warna yang payah. Mereka adalah “obralan” yang menjadi “obrolan”. “Obralan” yang penuh “obrolan kosong”. Para aktor, 5 level diatas aktor sinetron striping. Para kaum, YOU SEE WHAT YOU SEE! Kalaupun yang saya katakan ini omong kosong, anggap saja saya adalah orang yang sedang Obral obrolan para pengobral janji. Anggap saja saya cari sensasi seperti “Bukan Dewi Persik” atau “Bukan Julia Perez”. Satu hal, setidaknya di Pattaya You get what you see.

Ini adalah teror yang tersusun rapi, sistematis, terencana, konyol, dan brilian.
Tidak cukup dengan ekspresi ala kadarnya dan slogan-slogan yang… sudahlah. Nilai artistik benda ini pasti akan dapat nilai E- (E Minus) dari guru pelajaran “Seni Kontemporer Abad Pertengahan”-ku waktu TK dulu. Mereka benar-benar mengotori kota, merusak mimpi kami yang pernah melihat kota di TV, saya mulai prihatin dengan lirik lagu “Pada hari minggu ku turut ayah ke kota …” tahun ini pasti liriknya akan ada sedikit perubahan dan aransemen baru dengan nada minor. Bahkan dalam keadaan demam, di tengah hujan badai, hasil kerajinan tangan Murid TK Kembang Desa masih lebih baik. Masih lebih baik!

Kalau para pelaku street art Grafitty dikejar-kejar aparat karena Vandalisme. Lantas? Benda-benda ini? Mana yang sebenarnya lebih merusak? Apa yang terjadi pada orang yang memasangnya? Bagaimana dengan orang yang memerintahkannya? Atau kita punya konsep yang berbeda tentang “merusak”? Apa saya terlalu banyak bertanya?
Oh, maaf saya lupa ternyata tidak ada pasal yang mengatur tentang pidana “Mengotori kota secara brutal dan terencana”. Maaf pak, saya lupa :D Saya benar-benar lupa. Tolong jangan tangkap saya.

Kalian benar-benar tega,
Kau Armando,
Emilio,
Raul,
Gustavo,
Memasang senyum palsu semanis madu yang sangat tidak Dangdut. Apalagi Telenovela.

DEMI SEBUAH KALIMAT: “MENJADI PEMIMPIN”

Sekarang… ceritakan padaku apa itu Vandalisme.

%d bloggers like this: