Rejection

Ini adalah sebuah penolakan…

Aku menolak menjadi engkau yang tertawa.
Yang memilah rupa dalam bentuk terwajah.
Yang menjebak diri dalam lembar jiwa tak berpenghuni.

Kita menjadi manusia yang kehilangan gairah ditengah perburuan penuh gairah akan sebuah gairah.

Apa yang kalian cari?
Kenapa tren begitu penting untuk kebanyakan dari kita?
Untuk semua hal membuat kita kehilangan sifat – sifat manusia kita yang menyenangkan.
Berapa banyak lagi terobosan teknologi yang harus kita ciptakan?
Yang membuat kebanyakan orang – orang harus antri untuk benda yang sebenarnya mereka tidak butuhkan.

Berapa lagi uang yang harus wanita – wanita kita keluarkan untuk mempertebal bulu matanya?
Seberapa sering para pria harus menanggalkan harga diri mereka untuk mendapatkan harta yang tidak pernah cukup?

Entah mengapa kita masih menyebut itu sebagai normal.

Dulu orang tuaku tidak pernah mengatakan kalau hal – hal seperti ini akan terjadi.
Seharusnya mereka membekali saya dengan tabungan yang cukup untuk membangun koloni di bulan.
Tidak..tidak… saya tidak sedang putus asa.
Hanya saja, tinggal satu planet dengan kumpulan orang – orang normal ini… menyita terlalu banyak energi.

Sebut saja saya gila…

Dan kalian bisa tetap keren dengan tenang, dan normal.
Semoga itu bisa menyelamatkanmu.

Gairah Liar Tante Olivia

“Pada sebuah lorong zaman
Aku menatap kosong
Dan aku kosong, semoga.
Sehingga pada satu titik, kita kembali… Utuh”

Nafas tante olivia memburu, tarikan nafasnya menjadi tak beraturan, ia nyaris megap – megap karenanya. Matanya sayu dan tatapannya nanar. Ia nyaris kehilangan kendali atas perasaannya sendiri. Gairah telah menjalari sekujur tubuhnya, lututnya nyaris tak bisa menopang tubuhnya sendiri.

Seluruh tubuhnya ingin memiliki benda menggoda itu.
Ia ingin… ingin sekali!
Begitu ia lama diam membeku di depan etalase toko yang memajang sebuah tas “branded” seharga puluhan juta.

Ia tak bisa membendung hasratnya untuk memiliki benda mewah terkutuk itu.
Seluruh gengsi dan standar prestise dirinya tak bisa menolak, mungkin sangat memaksakan dirinya untuk memiliki tas kulit impor dari prancis yang mungkin hanya akan ia isi dengan lipstik, beberapa potongan struk belanja, sesekali mungkin membawa aspirin kalau saja ia harus menahan sakit kepala karena beberapa barang mewah yang tak bisa atau belum sempat ia beli.
Dalam tingkat ekstrim mungkin membawa tali untuk menjaga kemungkinan ia secara tiba-tiba mendapatkan alasan tidak masuk akal untuk bunuh diri.

Ya! Namanya Olivia…
Tatanan sosial masyarakat di negara ini mengharuskan beberapa orang memanggilnya dengan sebutan Tante Olivia.
Parasnya cantik, hidung mancung, pipi tirus, leher yang jenjang, dengan bibir yang ranum.
Dia adalah anggota terhormat dari sebuah peradaban.
Sebuah penanda jaman. Sebuah warna dari peradaban liar umat manusia.

Memiliki gairah khas perempuan yang (katanya) modern.
Berjalan dengan pongah dan menjadi pusat perhatian di tengah keramaian.
Lipstiknya merah menyala, kadang merah menyalak, kadang merah meradang, kadang merah menjerit. Seksi (katanya)
Mengoleksi puluhan set bahan kimia hasil uji laboratorium kecantikan dari tempat antah berantah.
Tante olivia… spesies berbahaya dengan daya pikat palsu yang memabukkan.
Yang memakai rok mini dan tetap kerepotan untuk menariknya ke arah bawah.
Berjalan dengan mata menatap tajam penuh percaya diri. Haaaaah… mental diva yang salah tempat.
Saya tidak punya waktu untuk membahas seperti apa pria – pria yang bergantian coba mendekatinya. Kalau kau bisa membayangkan bagaimana kelihatannya jika kambing memakai dasi, urusannya selesai sampai disitu.

Tante Olivia…
Yang mencari masalah dengannya, akan berakhir pada sebuah diskusi brutal yang membahas lawannya dari ujung kaki sampai ujung rambut, mulai dari harga rumah sampai harga tusuk giginya.
Ia bisa membuat wanita baik – baik terlihat seperti salah satu wanita yang berkarir di tepi jalan di Pattaya.
Pria baik – baik? Kau mau apa? Gosip tentang impotensi? Atau gosip tentang berapa ratus wanita yang tidur denganmu selama semalam?
Hanya dengan sedikit cerita, ditambah dengan didikan infotainment, serta sedikit rasa benci. Tante olivia bisa membuat hidup siapapun berantakan.
She had a passion for it! Believe me!
Dia akan mengejarmu, percayalah tipikal manusia seperti ini sangat lihai mengumpulkan informasi. “Koki cerita” yang handal dan terlatih, ia punya kreatifitas dan bumbu cerita dengan stok tak terbatas.

Tante Olivia yang malang.

Mungkin hanya Tuhan yang bisa menghentikannya. Ribuan tahun evolusi manusia membawanya pada titik ini. Titik dimana ia menentang alam, menentang dan mencampakkan hakikat dirinya serta menentang Tuhan.

Untuknya, gengsi adalah segalanya.
Entah dengan berusaha membuat dirinya telihat berkelas atau dengan menurunkan kelas orang lain.
Apapun itu, selama ia tidak menjadi nomor dua, jagat raya akan tetap berputar pada porosnya.

Batas Tak Hingga Gelombang Quanta

Teruntukmu Fatimah, My Lady…

Duhai sayangku…

Hari ini adalah hari dimana aku dengan segenap atom-atom ditubuhku merindukan setiap partikel dari dirimu.
Sudah genap 3 kali rasi bintang Aquilla, tapi aku tidak pernah menemukanmu diujung aurora manapun.

Kemana dirimu dengan semua gelombang suara amplitudo rendah dari tawa renyahmu?
Tidak ada satupun teori yang bisa menjelaskan apa yang kurasakan saat ini untukmu.
Bahkan Max Planck tidak akan mengerti mengapa energi untuk mengisi tiap sel otakku dengan dirimu bisa mengalir tanpa potongan potongan quanta.

My lady… Konstanta linierku yang selalu kurindukan…

Suatu saat kita akan bertemu kembali, dalam tiap satuan mikron waktu yang tidak akan kita sia-siakan.
Kita akan keluar dari bantuan komunikasi jarak jauh tolol yang menggunakan “radiasi kuantitas gelap”.
Tapi saat ini biarkan saja dulu keadaannya seperti ini. Kita harus sabar.

Saat tiap radian dari rasa rindumu perlahan akan menggerus kesabaranmu.
Percayalah… Ya, percayalah… Aku akan datang tepat di depan istanamu, dengan menunggangi kuda putih, err.. maksudku dengan roket super bersilinder tunggal dengan kecepatan superluminal.
Kau berfikir itu tidak mungkin? Tunggu sampai kau dengar tentang hipotesaku mengenai rekayasa relativitas ruang hampa.

Amantes sunt amentes (Para pecinta adalah sekumpulan orang Idiot)

Duhai gadisku… Ruang hampa di sudut gelap lubang hitam hatiku…

Aku nyaris gila disini… Kutub utara tidak menyediakan apapun selain matahari yang datangnya 6 bulan sekali.
Dan aurora borealis itu, mereka sangat indah. Kuharap suatu saat kau ada disini, kita bisa menikmati auroranya. Lengkap dengan kelinci arktiknya. Juga.

Aku terjebak dalam Ultraviolet Catasthrope…
Bencana ultraungu… Malam minggu disini selalu berwarna biru malam pekat dengan kerapatan cahaya berada diambang batas variabel orbit elektron.

Kadang aku berfikir lebih baik tersiksa oleh hipotermia, atau lebih baik babak belur dihajar Paus Beluga yang kurebut makanannya tiga hari yang lalu.

Terpisah jutaan inci darimu, melihat gambarmu dari sebuah kertas konyol hasil kamera polaroid, adalah hal yang jauh lebih buruk. Seperti semuanya tersusun secara rapi dari energi destruktif paralel yang menghancurkan aku dari dalam. Dan saat kusadari, aku hanya tinggal serpihan quanta dalam orbit alam semesta.

Sayangku… Lintasan partikel dalam celah jiwaku…

Masih ada 10.368.000 detik lagi sebelum kita akhrinya bisa bertemu. Segera… setelah aku selesai dengan penelitian partikel jagat raya yang kulakukan disini. Meskipun akan sangat menyiksa untuk menghitung mundur waktu sepuluh juta detik itu.

Sayangku… My Big Bang Theory…

Percayalah, Allah bersama orang orang yang sabar.
Dan kita akan segera bertemu. Semoga…
Selama aku tidak mati karena semua satuan waktu rindu untukmu.
Atau oleh Paus Beluga yang masih dendam kepadaku.

%d bloggers like this: