Archive | PUISHIT RSS for this section

Batas Tak Hingga Gelombang Quanta

Teruntukmu Fatimah, My Lady…

Duhai sayangku…

Hari ini adalah hari dimana aku dengan segenap atom-atom ditubuhku merindukan setiap partikel dari dirimu.
Sudah genap 3 kali rasi bintang Aquilla, tapi aku tidak pernah menemukanmu diujung aurora manapun.

Kemana dirimu dengan semua gelombang suara amplitudo rendah dari tawa renyahmu?
Tidak ada satupun teori yang bisa menjelaskan apa yang kurasakan saat ini untukmu.
Bahkan Max Planck tidak akan mengerti mengapa energi untuk mengisi tiap sel otakku dengan dirimu bisa mengalir tanpa potongan potongan quanta.

My lady… Konstanta linierku yang selalu kurindukan…

Suatu saat kita akan bertemu kembali, dalam tiap satuan mikron waktu yang tidak akan kita sia-siakan.
Kita akan keluar dari bantuan komunikasi jarak jauh tolol yang menggunakan “radiasi kuantitas gelap”.
Tapi saat ini biarkan saja dulu keadaannya seperti ini. Kita harus sabar.

Saat tiap radian dari rasa rindumu perlahan akan menggerus kesabaranmu.
Percayalah… Ya, percayalah… Aku akan datang tepat di depan istanamu, dengan menunggangi kuda putih, err.. maksudku dengan roket super bersilinder tunggal dengan kecepatan superluminal.
Kau berfikir itu tidak mungkin? Tunggu sampai kau dengar tentang hipotesaku mengenai rekayasa relativitas ruang hampa.

Amantes sunt amentes (Para pecinta adalah sekumpulan orang Idiot)

Duhai gadisku… Ruang hampa di sudut gelap lubang hitam hatiku…

Aku nyaris gila disini… Kutub utara tidak menyediakan apapun selain matahari yang datangnya 6 bulan sekali.
Dan aurora borealis itu, mereka sangat indah. Kuharap suatu saat kau ada disini, kita bisa menikmati auroranya. Lengkap dengan kelinci arktiknya. Juga.

Aku terjebak dalam Ultraviolet Catasthrope…
Bencana ultraungu… Malam minggu disini selalu berwarna biru malam pekat dengan kerapatan cahaya berada diambang batas variabel orbit elektron.

Kadang aku berfikir lebih baik tersiksa oleh hipotermia, atau lebih baik babak belur dihajar Paus Beluga yang kurebut makanannya tiga hari yang lalu.

Terpisah jutaan inci darimu, melihat gambarmu dari sebuah kertas konyol hasil kamera polaroid, adalah hal yang jauh lebih buruk. Seperti semuanya tersusun secara rapi dari energi destruktif paralel yang menghancurkan aku dari dalam. Dan saat kusadari, aku hanya tinggal serpihan quanta dalam orbit alam semesta.

Sayangku… Lintasan partikel dalam celah jiwaku…

Masih ada 10.368.000 detik lagi sebelum kita akhrinya bisa bertemu. Segera… setelah aku selesai dengan penelitian partikel jagat raya yang kulakukan disini. Meskipun akan sangat menyiksa untuk menghitung mundur waktu sepuluh juta detik itu.

Sayangku… My Big Bang Theory…

Percayalah, Allah bersama orang orang yang sabar.
Dan kita akan segera bertemu. Semoga…
Selama aku tidak mati karena semua satuan waktu rindu untukmu.
Atau oleh Paus Beluga yang masih dendam kepadaku.

Scar or Scare?

Sejarah hanya mencatat mereka yang siap tersayat…

Halo, gadis di masa depan…
Aku menulis ini karena percaya bahwa waktu adalah sesuatu yang paralel.
Kita mungkin telah bertemu di masa depan.
Meski sampai saat ini kita belum saling bertemu.
Atau mungkin kita sudah bertemu tapi belum saling menemukan?

Kuharap kau tidak terlalu banyak menonton Sinetron. Aku takut presepsimu tentang romantisme dalam hubungan menjadi begitu sempit. Aku takut kau akan meracuni kopiku saat aku mulai menyebalkan. Aku takut kau lari ke dalam kamar, mengunci pintu dan menangis di balik pintu saat aku mengatakan telur dadar buatanmu agak asin.
Aku takut kamu akan membanting Handphonemu saat aku tidak mengangkat telpon darimu. Aku takut kamu menghadiri arisan yang agenda utamanya membicarakan darimana Ibu Subangun mendapatkan uang untuk membeli TV Plasma terbarunya.

Sebelum kamu melakukan semua itu, dan menghancurkan hidupmu. Aku janji akan berusaha untuk tidak memberimu pilihan lain selain pilihan menikmati hidupmu bersama pria asing sepertiku.
Aku adalah pria asing untukmu, kau adalah wanita asing untukku, dan kehidupan adalah sesuatu yang selalu asing untuk kita berdua.
Kita akan selalu menemukan sesuatu yang baru tiap harinya, karena kita begitu asing satu sama lain.
Kita akan membicarakan mengapa bunga tulip yang kita tanam di pot tidak kunjung tumbuh.
Kau akan menjadi wanita yang selalu siap menjambak rambut wanita disampingmu saat merebut barang diskon yang sangat ingin kau beli. Dan kau tahu, aku selalu bisa diandalkan. Aku punya banyak bom asap untuk kita lemparkan di kerumunan wanita-wanita itu. Dan kau cukup senang melihat aku beraksi seperti pasukan anti teror.
Kau adalah wanita “psikopat” terseksi di seantero galaksi.

Kita akan duduk di atas atap rumah kita dan membicarakan kemungkinan terbaik jika saat itu terjadi gempa.
Kita akan melakukan taruhan-taruhan konyol, seperti; disisi manakah rintik hujan pertama jatuh dikaca mobil kita.
Kita akan membicarakan siapa yang lebih baik WS. Rendra atau David Beckham.
Atau siapa yang berlari lebih kencang Cheetah atau Rusa yang sedang dikejar Cheetah.
Atau berdebat format apa yang lebih baik MP3 atau WMA, meskipun kita tidak tau dimana perbedaan mendasarnya.
Semua pembicaraan selalu bisa menjadi begitu menarik.

Begitu muda, begitu bebas, aku akan menjadi imam dalam shalatmu, dan dalam hidupmu.
Hanya ada satu masalah, kita belum bertemu. Tapi suatu saat ketika bertemu, aku akan memperlihatkan padamu coretan ini.
Saat itu terjadi, aku akan dengan sangat bangga dan mengatakan bahwa aku sangat berbakat dalam hal meramal.
Kuharap saat itu (atau bisa jadi saat ini) kau tidak menjambak rambutku.

Pun ternyata jika kau sudah membaca ini sebelum aku memperlihatkannya nanti.
Aku janji akan menceritakan banyak hal tentang ini…

Hey…! Hey…! Apa kau masih menyimak?

Puisi?

Ada apa…?
Ya, ada apa?
Kau menyebutnya puisi?
Aku menyebutnya bahasa.
Lantas?

Untuk apa?
Kita berdebat memikirkan apa yang mereka tulis.
Dalam jejak tak berbekas kita berbicara.
Membongkar untaian rahasia tak berahasia.
Itu tidak lebih dari kencing seekor singa jantan penanda teritori.

Sementara…
Kalian sibuk menyusun kalimat palsu yang mencoba menjadi penanda zaman.
Duh, apa bedanya dengan kencing palsu penanda teritori palsu.

Sementara…
Fatimah akan tetap merajut jaket hangat untuk kita gunakan.
Tapi kenapa harus kau gunakan saat musim kemarau tiba?

Haruskah kita begitu susah untuk ditebak?
Haruskah kita menjadi taring tak ber-rahang?

Ddfsheohjojbjhyohjn…
Kenapa tidak kau coba menulis seperti itu.
Agar orang-orang tau kau memang susah untuk dipahami.
Dimana waktu adalah sesuatu yang paralel.
dan membawa kita pada sebuah de ja vu.

Daun akasia akan tetap hijau.
Dan kalian akan menerka-nerka apa yang aku lakukan dengan menulis tumpukan sampah ini.
Ya! Aku tidak melakukan apa-apa.
Jangan terlalu berlebihan.

%d bloggers like this: