Archive | CAVE PAINTINGS RSS for this section

Realitas

Lalu apa yang kita hadapi sekarang?
Tenteram dalam bagian yang tak kita sadari tentang semesta.
Atau mungkin kita hanya pura-pura tak sadar?

Seorang teman yang sangat dekat pernah mengingatkanku. Katanya di jaman ini hidup terlalu lurus dan idealis itu tidak realistis.
Katanya orang-orang tidak akan bisa hidup dengan cara seperti itu.

Di satu sisi, mungkin ini hanya perbedaan sudut pandang tentang hidup.
Juga mungkin ada sedikit perbedaan sudut pandang tentang apa itu realitas.

Tapi mungkin kita sebenarnya lupa,
Dan kuharap kita tak lupa.
Saat menyembah fir’aun adalah hal normal dan paling realistis di jaman Nabi Musa. Saat homoseksual adalah hal normal di jaman Nabi Luth.
Lalu bukankah tiap jaman ada akhirnya, cepat atau lambat. Dan kita suka atau tidak akan harus memilih hitam atau putih.

Namun sebelum jaman itu berakhir saat kau sedikit berusaha meluruskan apa yang salah.
Disebut gila dan kurang waras adalah hal yang wajar.

Tapi jika jaman ini menuntut banyak hal-hal baik yang harus dikorbankan untuk menjadi normal.
Maaf, silakan sebut aku gila, dan kalian bisa normal dan tetap keren.

Kawan…
Mungkin kita hanya lupa, terkadang, realitas adalah ilusi yang disepakati bersama.

Tolong tampar saya.

Rejection

Ini adalah sebuah penolakan…

Aku menolak menjadi engkau yang tertawa.
Yang memilah rupa dalam bentuk terwajah.
Yang menjebak diri dalam lembar jiwa tak berpenghuni.

Kita menjadi manusia yang kehilangan gairah ditengah perburuan penuh gairah akan sebuah gairah.

Apa yang kalian cari?
Kenapa tren begitu penting untuk kebanyakan dari kita?
Untuk semua hal membuat kita kehilangan sifat – sifat manusia kita yang menyenangkan.
Berapa banyak lagi terobosan teknologi yang harus kita ciptakan?
Yang membuat kebanyakan orang – orang harus antri untuk benda yang sebenarnya mereka tidak butuhkan.

Berapa lagi uang yang harus wanita – wanita kita keluarkan untuk mempertebal bulu matanya?
Seberapa sering para pria harus menanggalkan harga diri mereka untuk mendapatkan harta yang tidak pernah cukup?

Entah mengapa kita masih menyebut itu sebagai normal.

Dulu orang tuaku tidak pernah mengatakan kalau hal – hal seperti ini akan terjadi.
Seharusnya mereka membekali saya dengan tabungan yang cukup untuk membangun koloni di bulan.
Tidak..tidak… saya tidak sedang putus asa.
Hanya saja, tinggal satu planet dengan kumpulan orang – orang normal ini… menyita terlalu banyak energi.

Sebut saja saya gila…

Dan kalian bisa tetap keren dengan tenang, dan normal.
Semoga itu bisa menyelamatkanmu.

Gairah Liar Tante Olivia

“Pada sebuah lorong zaman
Aku menatap kosong
Dan aku kosong, semoga.
Sehingga pada satu titik, kita kembali… Utuh”

Nafas tante olivia memburu, tarikan nafasnya menjadi tak beraturan, ia nyaris megap – megap karenanya. Matanya sayu dan tatapannya nanar. Ia nyaris kehilangan kendali atas perasaannya sendiri. Gairah telah menjalari sekujur tubuhnya, lututnya nyaris tak bisa menopang tubuhnya sendiri.

Seluruh tubuhnya ingin memiliki benda menggoda itu.
Ia ingin… ingin sekali!
Begitu ia lama diam membeku di depan etalase toko yang memajang sebuah tas “branded” seharga puluhan juta.

Ia tak bisa membendung hasratnya untuk memiliki benda mewah terkutuk itu.
Seluruh gengsi dan standar prestise dirinya tak bisa menolak, mungkin sangat memaksakan dirinya untuk memiliki tas kulit impor dari prancis yang mungkin hanya akan ia isi dengan lipstik, beberapa potongan struk belanja, sesekali mungkin membawa aspirin kalau saja ia harus menahan sakit kepala karena beberapa barang mewah yang tak bisa atau belum sempat ia beli.
Dalam tingkat ekstrim mungkin membawa tali untuk menjaga kemungkinan ia secara tiba-tiba mendapatkan alasan tidak masuk akal untuk bunuh diri.

Ya! Namanya Olivia…
Tatanan sosial masyarakat di negara ini mengharuskan beberapa orang memanggilnya dengan sebutan Tante Olivia.
Parasnya cantik, hidung mancung, pipi tirus, leher yang jenjang, dengan bibir yang ranum.
Dia adalah anggota terhormat dari sebuah peradaban.
Sebuah penanda jaman. Sebuah warna dari peradaban liar umat manusia.

Memiliki gairah khas perempuan yang (katanya) modern.
Berjalan dengan pongah dan menjadi pusat perhatian di tengah keramaian.
Lipstiknya merah menyala, kadang merah menyalak, kadang merah meradang, kadang merah menjerit. Seksi (katanya)
Mengoleksi puluhan set bahan kimia hasil uji laboratorium kecantikan dari tempat antah berantah.
Tante olivia… spesies berbahaya dengan daya pikat palsu yang memabukkan.
Yang memakai rok mini dan tetap kerepotan untuk menariknya ke arah bawah.
Berjalan dengan mata menatap tajam penuh percaya diri. Haaaaah… mental diva yang salah tempat.
Saya tidak punya waktu untuk membahas seperti apa pria – pria yang bergantian coba mendekatinya. Kalau kau bisa membayangkan bagaimana kelihatannya jika kambing memakai dasi, urusannya selesai sampai disitu.

Tante Olivia…
Yang mencari masalah dengannya, akan berakhir pada sebuah diskusi brutal yang membahas lawannya dari ujung kaki sampai ujung rambut, mulai dari harga rumah sampai harga tusuk giginya.
Ia bisa membuat wanita baik – baik terlihat seperti salah satu wanita yang berkarir di tepi jalan di Pattaya.
Pria baik – baik? Kau mau apa? Gosip tentang impotensi? Atau gosip tentang berapa ratus wanita yang tidur denganmu selama semalam?
Hanya dengan sedikit cerita, ditambah dengan didikan infotainment, serta sedikit rasa benci. Tante olivia bisa membuat hidup siapapun berantakan.
She had a passion for it! Believe me!
Dia akan mengejarmu, percayalah tipikal manusia seperti ini sangat lihai mengumpulkan informasi. “Koki cerita” yang handal dan terlatih, ia punya kreatifitas dan bumbu cerita dengan stok tak terbatas.

Tante Olivia yang malang.

Mungkin hanya Tuhan yang bisa menghentikannya. Ribuan tahun evolusi manusia membawanya pada titik ini. Titik dimana ia menentang alam, menentang dan mencampakkan hakikat dirinya serta menentang Tuhan.

Untuknya, gengsi adalah segalanya.
Entah dengan berusaha membuat dirinya telihat berkelas atau dengan menurunkan kelas orang lain.
Apapun itu, selama ia tidak menjadi nomor dua, jagat raya akan tetap berputar pada porosnya.

%d bloggers like this: